Jika melihat seberapa terkenalnya Indonesia di mata dunia, maka bisa kita lihat ke belakang saat zaman rempah rempah berjaya di dunia. Indonesia merupakan salah satu Negara yang sangat dilirik oleh mata dunia, karena penghasil rempah rempah dan sumber daya alam yang sangat kaya. Selain itu, Indonesia merupakan daerah yang sangat strategis. Sehingga semua orang dari berbagai kalangan di dunia datang berkunjung ke Indonesia. Hal inilah yang membuat Indonesia menjadi salah satu pusat perdagangan yang sangat penting pada masanya. Perlintasan perdagangan ini telah diketahui sejak abad ke-5, para pedagang yang berasal dari Negara China dan Negara India selalu melintasi jalur rempah nusantara. Untuk itu kita perlu melihat bagaimana sejarah rempah rempah di Indonesia, yang membuat Indonesia diburu oleh para bangsa Eropa dan dunia. Bagaimana proses panjang sejarah rempah rempah di Indonesia dan di dunia?
MAYA DWI EFFENDI – NARASI JURNAL
Zaman Kuno, Sebelum Manusia Mengenal Rempah Rempah
Jika melirik ke belakang sebelum manusia mengenal rempah rempahan. Umumnya, manusia pada zaman kuno belum mengenal teknik perbumbuan sama sekali. Manusia pada zaman kuno, jika dapat hasil perburuan maka makanan tersebut langsung dipanggangnya. Sehingga hasil makanan yang mereka olah hanya memiliki cita rasa yang seadanya saja. Karena tidak ada bumbu bumbu lainnya selain makanan yang mereka buat. Karena teknik makanan yang mereka makan hanya dipanggang langsung, tak hayal makanan hasil buruan mereka tidak bertahan lama. Sehingga mereka harus berburu setiap harinya, untuk memenuhi makanan mereka.
Berdasarkan artikel dari kumparan.com dengan judul “Sejarah Penemuan dan Perkembangan Rempah-rempah”, teknik penyimpanan makanan hasil perburuan mereka, tidak sengaja mereka dapati saat manusia zaman kuno pulang dari berburu. Mereka mencoba membungkus daging buruan mereka dengan sebuah daun rempah rempahan. Sehingga membuat daging hasil buruannya menjadi lebih berbeda dari sebelumnya. Cita rasa yang ditimbulkannya menjadi lebih berasa dan nikmat bagi para manusia kuno. Bahkan, mereka mencoba melakukan teknik teknik lainnya dengan rempah rempah yang mereka cari, seperti membuat ramuan untuk pengobatan untuk mengobati beberapa macam penyakit. Dengan cara mencampurkan rempah-rempahan yang mereka buat kedalam makanan yang akan mereka makan.
Berdasarkan catatan dari para ahli sejarah, sejak tahun 2500 SM, orang Mesir Kuno menggunakan berbagai olahan rempah rempahan yang mereka miliki untuk membuat balsam. Bertujuan untuk mengawetkan mayat, sehingga mayat tersebut dapat awet. Selain itu juga, orang Mesir Kuno terkenal menggunakan rempah rempahan tersebut untuk kecantikan para raja dan ratu Mesir Kuno, sehingga kulit para raja dan ratu menjadi lebih awet muda dan lebih cantik.
Penemuan Jalur Laut Sebagai Akses Perdagangan / Jalur Sutera
Pemakaian rempah rempah tersebut terus berlangsung dari masa ke masa, sehingga pemakaian rempah rempah terus menyebar luas ke seluruh lapisan belahan dunia. Informasi tentang rempah rempah ini menyebar luas dari Timur Tengah hingga ke Mediterania bagian Timur dan Eropa. Cara pengangkutan rempah rempah ini awalnya dilakukan dengan memakai caravan keledai dan unta, yang berlangsung kurang lebih selama 5000 tahun dan dikuasai penuh oleh para tengkulak Arab.
Karena memakai jalur darat memakan waktu yang sangat lama dan membutuhkan biaya yang banyak, maka beberapa kalangan mencoba mencari cara untuk membawa rempah rempah tersebut ke daerah mereka dengan cepat. Tanpa membutuhkan waktu dan biaya yang banyak. Akhirnya, penjajah bangsa Eropa menemukan jalur laut ke India dan negara negara penghasil rempah rempah lainnya di bagian Timur. Dengan menggunakan jalur laut inilah maka perdagangan atau pengangkutan rempah rempah dapat dikatakan menjadi lebih murah dan irit, dibandingkan dengan membawa rempah rempah melalui jalur darat. Diketahui juga, zaman penemuan dunia baru melalui jalur laut tersebut dikatakan sebagai zaman eksplorasi hebat, karena sebagai penemuan dunia baru untuk membawa rempah rempah dari daerah lain ke daerah tempat mereka tinggal.
Menurut catatan sejarah Vasco da Gama dari Negara Portugis, pada tahun 1497 telah menemukan rute jalur perdagangan di laut. Berada di ujung Selatan Afrika, sampai ke Kozhikode yang berada di pantai barat daya India. Dari sinilah, Vasco da Gama memperkenalkan rempah rempah di daerah asalnya. Rempah rempah tersebut dibawanya dari Negara India. Rempah rempah yang dibawanya antara lain berupa pala, kayu manis, lada, cengkeh dan lain sebagainya. Dari sinilah, orang bangsa Eropa mengenal rempah rempah yang merupakan suatu sumber daya alam yang sangat berharga pada masa itu. Selain itu juga, tidak banyak Negara yang dapat menghasilkan rempah rempah. Padahal, rempah rempah pada waktu itu sangatlah berharga dan sangat diburu oleh para saudagar. Karena banyaknya orang Eropa yang berburu atau ingin mendapatkan rempah rempah, maka berbondong-bondonglah bangsa Eropa mencari jalur perdagangan, dengan menggunakan jalur perdagangan atau jalur sutera. Jalur sutera ini dikenal dengan perdagangan internasional kuno sejak peradaban Cina.
Umumnya, jalur sutera tersebut digunakan oleh para saudagar, biarawati, para pengelana, dan orang orang yang nomaden. Mereka menggunakan karawan dan kapal laut untuk melakukan penjelajahan. Jalur sutera ini memiliki kejayaan pada masanya, yang membawa pengaruh ke Negara Korea dan Jepang. Dan dikenal sebagai zaman peradaban yang sudah maju. Selain perdagangan rempah rempah, jalur sutera tersebut digunakan sebagai pertukaran budaya, agama dan ilmu pengetahuan. Dikenalnya jalur sutera ini dikarenakan pada masa itu banyak para pedagang yang membawa sutera untuk didagangkan, namun ada juga beberapa barang yang diperdagangkan. Seperti tekstil, rempah rempah, biji bijian, sayuran, buah buahan, kulit binatang, gaharu, dan lain sebagainya. Posisi Indonesia Sejak abad pertama masehi, selain jalur perdagangan darat terdapat jalur perdagangan melalui laut. Rute yang sering dilalui oleh pedagang yang menghubungkan China dengan India melalui daerah Indonesia. Jalur yang melalui laut dari China dan Indonesia adalah Selat Malaka menuju India. Dari situ ada yang langsung ke Teluk Persia melalui Suriah ke Laut Tengah.
Berdasarkan artikel national geographic Indonesia dengan judul “Mencari Kembali Peradaban laut dan Jalur Budaya Rempah Nusantara”, diketahui bahwa Indonesia dikenal akan segudang rempah yang digunakan sebagai bumbu pelengkap makanan. Melimpahnya rempah Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah membuat bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara untuk berburu dan menguasai rempah-rempah. Bahkan rempah rempah pernah menjadi komoditas penting yang sangat mempengaruhi kondisi ekonomi, sosial, poltik maupun sosial budaya dalam skala global.
Selain itu, nusantara menjadi pemain penting dan pemasok utama rempah rempah dalam perdagangan dunia. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan kolonialisme. Bahkan dikenal sebagai jalur rempah, akibat digunakannya lalu lintas laut yang ramai dari Negara Tiongkok, India, Arab menuju Nusantara dan menuju ke arah sebaliknya. Indonesia juga dikatakan sebagai salah satu pusat peradaban bahari dunia, sebagai penguasa niaga politik dengan kebesaran armada maritimnya. Hal ini dibuktikan dari studi studi sejarah dan arkeologi yang ditemukan. Sehingga Indonesia dikenal dengan karakteristiknya yaitu archipelagic state atau Negara laut utama yang memiliki pulau pulau. Terkenalnya Nusantara akan rempah-rempahnya, membuat Indonesia dikenal di dunia terutama bangsa Eropa.
Rempah rempah Indonesia Menjadi Sorotan Dunia
Berdasarkan artikel dari kompas.com dengan judul “Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol dan Portugis” mengungkapkan bahwa pada abad ke-15, sekitar 75 sampai 90 persen rempah-rempah muncul dalam resep buku masak dari Inggris. Salah satunya adalah Forme of Curry (1390). Munculnya Indonesia pada buku masakan tersebut, tentunya membuat bangsa Indonesia bangga, karena memiliki sumber daya alam yang mendunia dan dikenal oleh banyak orang. Karena munculnya hasil rempah rempah yang dimiliki oleh Indonesia dalam buku masakan di Inggris, maka muncullah obsesi kalangan masyarakat Eropa untuk melacak di mana letak kepulauan rempah rempah tersebut. Selain berfungsi sebagai penguat cita rasa hidangan, rempah-rempah Indonesia juga terkenal dengan khasiatnya sebagai bahan medis. Manfaat tersebut sudah dirasakan sejak abad ke-15. Keberagaman rempah yang begitu banyak, yang memiliki nilai khasiat baik sebagai penguat rasa maupun sebagai bahan medis.
Berdasarkan Republika.co.id dengan judul “Jalur Rempah Bukan Jalur Sutra Maritim (1)” bahwa rempah-rempah datang dari negeri yang tidak pernah terbayangkan, dan seolah tidak pernah bisa terjangkau orang-orang di kawasan lain khususnya di Eropa. Karena itulah, rempah-rempah beserta jalurnya sangat diinginkan orang Eropa. Jika dilihat dari belakang jalur rute rempah telah berumur lebih tiga milenium. Orang harus mengelilingi dunia untuk membuat kronik lengkap tentang rute perdagangan rempah. Dengan bantuan berbagai peta kuno, penuturan, dan cerita para pengembara, buku panduan pelayaran lama dan catatan muatan kapal. Masa puncak jalur rempah tercapai sejak kemunculan Islam dan kebangkitan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Mereka membangkitkan perdagangan melewati jalur rempah pada masa pra-Islam. Para pelayar dan pedagang Muslim dari Arabia ini kemudian juga sampai ke Kepulauan Rempah-Rempah (Spice Islands), Maluku. Bersama para pelayar dan pedagang muslim lokal yang mendapat patronase dari sultan atau raja lokal, pedagang muslim dari Arabia dan wilayah lautan India membangkitkan kembali jalur rempah.
Sungai Batanghari Salah Satu Jalur Perdagangan Rempah-rempah
Berdasarkan catatan sejarah, salah satu sungai yang digunakan oleh para saudagar rempah rempah adalah Sungai Batanghari yang merupakan sungai terpanjang sekitar 800 km. Diketahui air Sungai Batanghari ini berasal dari Gunung Rasan dan yang menjadi hulu dari Batanghari ini yaitu Danau Diatas. Sungai Batanghari ini mengaliri beberapa daerah, diantaranya Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batanghari, Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Jabung Timur. Sungai Batanghari ini juga menjadi titik perdagangan penting untuk beberapa kerajaan yang pernah muncul di Pulau Sumatera seperti Sriwijaya dan Dharmasraya. Bahkan Dharmasraya dikenal sebagai pusat kerajaan pada zaman ke-13 dimasa kerajaan Melayu. Dharmasraya merupakan daerah yang sangat strategis, yang menjadikan daerah tersebut sebagai persingahan atau bertemunya para pedagang atau saudagar asing dari Selat Malaka yang ingin mencari hasil bumi atau rempah rempah oleh karenanya menjadi incaran dari berbagai daerah kerajaan lainnya.
Selain itu, bukti nyata bahwa Sungai Batanghari adalah perlintasan perdagangan dunia dibuktikan pada penemuan pecahan pecahan keramik yang berasal dari Asia Tenggara diantaranya Kamboja, Thailand dan Burma. Ada juga berglasir biru dari Persia, perhiasan milik keluarga raja pada masa kerajaan Melayu Kuno ataupun Kerajaan Sriwijaya. Untuk itu, Sungai Batanghari merupakan salah satu sungai yang memiliki peran penting dalam perdagangan rempah rempah dunia. (***)
