Site icon NARASI JURNAL

Berkat PLN Nagari Pelosok Nan Jauh Dari Kota Dapat Terang Benderang

Bupati saat memotong pita pertanda diresmikan Gardu Induk di salah satu kecamatan yang ada di Dharmasraya./DOK.istimewa.

Sebagai salah satu bentuk keseriusan dari pihak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat Indonesia telah dibuktikannya. Hal ini dapat dilihat di beberapa daerah yang berada di luar kawasan perkotaan, yakni daerah perdesaan yang sangat jauh. Namun saat ini  di daerah tersebut sudah teraliri listrik. Ini membuktikan bahwa PLN mampu mewujudkan impian masyarakat untuk dapat menikmati listrik. Salah satu daerah yang dulunya belum tersentuh listrik yaitu di Jorong Durian Simpai Nagari Koto Nan IV Dibawuh Kecamatan Sembilan Koto Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat. Sepuluh tahun yang lalu, nagari tersebut belum memiliki listrik. Masyarakat disana hanya memiliki penerangan dari cahaya petromak ataupun lilin. Tapi berkat keseriusan dari pihak PLN dan Pemkab Dharmasraya nagari tersebut sudah memiliki cahaya listrik yang sangat diidam-idamkannya. Bagaiman nasib mereka dulu saat PLN belum masuk ke nagari mereka ? Dan bagaimana mereka bertahan hidup tanpa adanya listrik di daerah mereka ? Inilah kisah mereka sebelum listrik masuk ke nagari mereka.

 

MAYA DWI EFFENDI – WARTAWAN MADYA/NARASI JURNAL

 

Saat mendengar suatu daerah belum dialiri listrik, mungkin pikiran kita sedikit tergelitik. Karena, kenapa di saat seluruh daerah sudah menikmati listrik, namun masih ada nagari yang belum memiliki listrik. Padahal listrik merupakan salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat dimana pun berada. Seperti memasak nasi, pasti membutuhkan listrik untuk mengaliri magic com. Kulkas, televisi, menyetrika baju, mencuci baju dan lain sebagainya. Mereka umumnya, belum menggunakan listrik di rumah mereka. Jika, adapun itu hanya orang yang memiliki uang lebih atau yang dikatakan sebagai orang kaya yang memiliki genset untuk mengaliri penerangan di rumah mereka. Itupun hanya selama empat jam saja. Selebihnya, rumah mereka akan tetap padam. Hanya ada lampu togok, petromak, lampu tempel dari minyak tanah ataupun lilin.

Saat itu, jalan menuju ke Jorong Durian Simpai belum semulus sekarang. Masih banyak jalan yang berbatu-batu dan tanah liat,  walaupun ada aspal hanya beberapa titik tertentu yang sudah di aspal. Sehingga daerah Kecamatan Sembilan Koto saat itu masih terbilang daerah terisolir atau daerah yang masih terbelakang yang belum tersentuh oleh teknologi. Baik itu ponsel ataupun internet. Karena disana masih belum ada listrik yang mengalir, sehingga internet belum dapat diakses oleh masyarakat Nagari Durian Simpai khususnya.

Di Kecamatan Sembilan Koto ada empat nagari atau desa, diantaranya adalah Nagari Banai, Nagari Lubuk Karak, Nagari Silago dan Nagari Koto Nan IV Dibawuh. Sedangkan Jorong atau kampung Durian Simpai masuk ke Nagari Koto Nan IV Dibawuh. Untuk Nagari Koto Nan IV memiliki lima jorong, diantaranya adalah  Durian Simpai, Koto Baru,  Lubuk Nan Sagu, Pulau Anjolai dan  Silombik. Di empat nagari yang ada di Sembilan Koto, seluruhnya belum memiliki listrik pada tahun 2011 lalu. Pemerintah Kabupaten Dharmasraya terus berusaha untuk memenuhi pembangunan secara merata, namun pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Dharmasraya harus dilakukan secara bertahap. Hal ini dikarenakan anggaran yang harus dibagi-bagi sesuai dengan kebutuhan daerah yang ada di Kabupaten Dharmasraya.

Menurut salah seorang warga Jorong Durian Simpai, Lasti Marni saat listrik belum masuk ke daerahnya, ia harus melakukan aktivitasnya tanpa menggunakan listrik. Semuanya serba manual, seperti memasak nasi harus menggunakan kayu bakar, penerangan harus menggunakan lampu tempel atau lilin. Sehingga saat anak anak mau belajar pun mereka harus berada dibawah pencahayaan lilin atau lampu tempel yang remang remang.

“10 tahun yang lalu memang tidak ada pencahayaan di rumah, jadi sangat sulit untuk anak anak beraktivitas malam. Terutama saat anak anak mau belajar ataupun mengaji. Jadi kami sangat berharap sekali listri dapat segera teraliri di daerah kami. Sehingga anak anak kami dapat belajar di tempat yang terang benderang, bukan sinar yang remang remang,” ungkap Lasti Marni yang berprofesi sebagai guru agama di salah satu SD di Kecamatan Sembilan Koto.

Di daerah Lasti Marni, hanya beberapa orang saja yang memiliki televisi. Jadi tetangga sekitar rumahnya akan berkunjung atau berkumpul ramai ramai untuk menyaksikan siaran televise, di rumah tetangganya yang memiliki televise dan genset.

“Kami ingat, tiap malam pasti kami ramai ramai datang kerumah tetanga kami yang perekonomiannya terbilang sangat berada. Jadi ia mampu membeli televisi dan genset, sehingga kami beramai-ramai menonton sinetron yang 10 tahun lalu lagi ngetop. Walaupun banyak nyamuk, terkadang harus berdempet-dempetan dengan tetangga lainnya. Namun kami merasakan sensasi yang sangat indah. Disitulah terjalinnya keakraban dan kekeluargaan antar tetangga satu dengan tetangga lainnya,” bebernya lagi.

Bagi Lasti, hiburan menonton sinetron tiga jam saja sudah sangat menghibur sekali. Hiburan yang tidak ternilai harganya bagi masyarakat Jorong Durian Simpai kala itu. Walaupun dalam sehari hanya tiga jam, namun bagi mereka itu sudah sangat menghibur dan suatu kebahagian tersendiri karena bisa melihat para artis muncul di televisi.

“Kita akan saling berbagi informasi tentang sinetron yang tayang tadi malam, jika ada tetangga tidak bisa datang untuk menonton. Atau rumah pemilik televisi penuh, jadi tidak ada tempat lagi untuk menonton. Bagi kami, itu adalah kenangan yang sangat indah. Walaupun belum ada listrik kala itu,” jelasnya.

Lain halnya dengan Marjoni, sepuluh tahun yang lalu ia juga merasakan hal yang sama. Adik adik nya yang harus mengaji di Mesjid hanya bisa menggunakan lampu tempel atau lilin. Sedangkan lampu yang ada hanya beberapa buah saja, sementara anak anak yang mengaji lebih kurang 25 orang. Jadi mereka harus berebutan cahaya untuk mengaji.

Namun, walaupun  tidak ada cahaya yang terang. Anak anak sepuluh tahun yang lalu tetap focus untuk mengaji. Dan mereka umumnya dapat mengaji dengan baik, walaupun hanya ada cahaya seadanya.

“Kalo seingat saya, sepuluh tahun yang lalu memang anak anak mengaji dengan menggunakan lampu seprong, lampu tempel ataupun lilin. Dari rumah mereka membawa obor masing-masing ke masjid. Walaupun dengan cahaya seadanya, mereka tetap semangat untuk belajar mengaji. Bahkan mereka bersama-sama tidur di masjid yang laki-lakinya, sedangkan yang perempuan balik ke rumahnya masing-masing. Jadi zaman dulu kebersamaan itu sangat kuat. Mereka saling akrab satu dengan yang lainnya, terlebih lagi tidak ada handpone seperti saat ini. Anak anak zaman dulu lebih suka bermain di alam, dan lebih asik permainannya,” ungkap Marjoni yang merupakan guru olahraga di salah satu sekolah Kecamatan Sembilan Koto.

Bagi mereka, walaupun tidak ada cahaya. Kehidupan tetap berjalan dengan baik. Namun, tidak dipungkuri bahwa penerangan atau listrik sangat dibutuhkan untuk zaman sekarang ini, yang semuanya membutuhkan listrik. Sehingga mereka tetap berharap listrik di daerahnya dapat segera teraliri saat itu.

“Kami cinto Pak PLN, karano Pak PLN tarangi nagari kami. Dulu kami ndak ado ba listrik, Cuma pakai lampu togok. Kini kami lah ado listrik, lah bisa nonton tv, lah ba internet, masak pakai listrik, mancuci pakai listrik. Pokoknyo, sadonyo lah pakai listrik. Lah sanang kami pak, tatolong karajo kami pak. (Kami cinta pak PLN, karena pak PLN sudah terangi nagari kami. Dulu kami tidak memiliki listrik, hanya memakai lampu petromak. TapI sekarang kami sudah ada listrik, sudah bisa nonton tv, sudah bisa ber-internet, masak pakai listrik, mencucui pakai listrik. Pokoknya semuanya sudah pakai listrik. Kami sudah senang pak, dan sudah tertolong seluruh kegiatan atau kerjaan kami pak),ungkap salah seorang warga Jorong Durian Simpai, Pak Sholeh.

Sebait kalimat ungkapan terima kasih salah seorang warga sudah mewakili seluruh ungkapan hati masyarakat, yang dulunya belum memiliki listrik. Namun berkat komitmen dari Pemerintah beserta pihak PLN akhirnya seluruh penjuru nagari yang berada di pelosok pelosok saat ini, sudah menikmati penerangan yang sangat mereka idam-idamkan. Tak ada lagi, nagari atau desa yang gelap gulita karena tidak adanya penerangan dari PLN. Tak ada lagi nagari yang kurang informasi dari dunia luar, karena tidak ada alat komunikasi yang masuk ke nagari mereka. Karena saat ini, semua nagari sudah bisa mendapatan alat komunikasi seperti daerah daerah yang sudah maju atau berada di pusat ibukota. Mereka sudah memiliki akses internet, untuk berselancar di dunia maya atau mendapatkan informasi dari televise dan lain sebagainya. Ini semua berkat keseriusan dan komitmen dari pihak PLN dan pemerintah.

Alhamdulillah, harapan mereka terkabul saat Pemkab Dharmasraya beserta pihak PLN fokus untuk mengaliri listrik ke daerah mereka dengan sistem listrik pintar.

 “Alhamdulillah saat ini kami sudah merasakan nikmatnya menggunakan listrik yang mengalir ke rumah kami. Ini suatu keberuntungan bagi kami masyarakat yang jauh terpelosok dapat menikmati listrik,” harap Rosmawati, salah seorang warga Kecamatan Sembilan Koto.

Sedangkan menurut Bupati Dharmasraya, alam di daerah Keamatan Sembilan Koto sangatlah indah dan dapat dijadikan sebagai lahan pariwisata. Karena keadaan alamnya masih sangat murni, airnya yang sangat jernih dan  ada sesuatu yang bisa dijadikan lading pariwisata yang sangat membanggakan bagi masyarakat Kabupaten Dharmasraya umumnya dan masyarakat Kecamatan Sembilan Koto khususnya.

Oleh karena itu, Bupati terus berupaya untuk memberikan pembangunan yang berkualitas di sana terutama listrik. Dan Alhamdulillah semua daerah di Kabupaten Dharmasraya sudah teraliri listri. “Alhamdulillah,  semua harapan masyarakat sudah tercapai sampai saat ini. Yakni memiliki listrik di rumah atau tempat tinggalnya,” ungkap Bupati.

Menurut Direktur Bisnis PLN Regional Sumatera, Wiluyo Kuswiharto saat menghadiri acara peresmian bersama listrik desa di Jorong Lubuk Labu Nagari Banai Kecamatan Sembilan Koto pada bulan November 2018 lalu. Bahwa di Kabupaten Dharmasraya sudah 100 persen teraliri, dan ini merupakan upaya keras dari Bupati Dharmasraya untuk mewujudkan impian dan harapan masyarakatnya.

“Kita patut memberikan apresiasi yang sangat besar untuk Bupati Dharmasraya, karena telah berupaya mewujudkan impian masyarakatnya mendapatkan listrik. Dan ini sudah terbukti,”  ungkap Wiluyo Kuswiharto kala itu.

Sampai sekarang, masyarakat Kecamatan Sembilan Koto sudah mulai berkembang pesat. Dan sudah lebih maju dan berkembang dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. ****

Exit mobile version