Guspitawati
Guru SDN 09 Sembilankoto
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia, karena tanpa adanya pendidikan yang baik tidak akan mampu menciptakan kualitas manusia yang baik dan mampu bersaing pada masa serba modern dan maju seperti sekarang. Dalam dunia pendidikan pendidik dan peserta didik merupakan unsur yang berperan penting disamping unsur–unsur yang lainnya.Untuk mencapai sebuah keberhasilan bagi peserta didik dibutuhkanlah kerja keras, yang menuntut pelajar untuk benar–benar belajar, tetapi keberhasilan siswa–siswi tersebut sangat tergantung pada peranan seorang pendidik.
Keberhasilan belajar siswa di tunjukan oleh hasil belajar yang tinggi serta diiringi sikap dan tingkah laku yang terpuji yang merupakankan idaman setiap orang tua, serta siapa yang punya perhatian terhadap pendidikan generasi penerus pada masa depan. Para orang tua sangat mendambakan agar anak-anak mereka memperoleh hasil belajar yang memuaskan pada mata pelajaran agama islam sehingga anak mampu memasuki sekolah lanjutan atau sekolah yang di minati.
Harapan dan keinginan para peserta didik juga sangat diinginkan oleh para orangtua, hal tersebut sangat terkait erat pada usaha seorang pendidik, untuk menciptakan sistem pendidikan yang melalui proses belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan bagi peserta didik,maka guru harus jeli dan teliti untuk menciptakannya, salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mampunya seorang guru memilih metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan,sehingga mampu menarik perhatian peserta didik dalam belajar.
Berbagai macam metode yang ada dalam sistem pembelajaran,yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing–masing. Oleh karena itu bagi pendidik harus mampu memilih metode karena pendidik merupakan seorang yang mengemban amanah yang berat, karena sebagai seorang pendidik yang hanya manusia biasa tetapi memiliki kelebihan kewajiban yang luar biasa dibanding mahkluk Allah SWT yang lainnya.
Advokasi dipandang sebagai suatu model pendekatan alternatif terhadap pengajaran didaktis didalam kelas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari isu-isu sosial yang berarti melalui keterlibatan lansung dan partisipasi pribadi. Model belajar ini menuntut para siswa terfokus pada topik yang telah di tentukan sebelumnya dan mengajukan pendapat yang berkaitan dengan topik tersebut, bentuk pengajaran berpusat pada siswa, sering di identikan dengan proses debat.
Menurut Omer Hamalik, belajar dengan model advokasi ini dapat digunakan baik belajar disekolah dasar maupun di sekolah lanjutan. Berdasarkan tingkatan siswa, model ini dapat di perluas atau di sederhanakan pelaksanaannya.Pendekatan intruksional belajar advokasi mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam logika, pemecahan masalah berfikir kritis serta komunikasi lisan dan tulisan.Selain itu,model ini dapat meningkatkan rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat.
Kurangnya rasa percaya diri siswa dalam proses belajar mengakibatkan minder atau kurang rasa percaya diri dalam berinteraksi kepada teman sebayanya dan ragu-ragu dalam mengungkapkan pendapat dalam proses belajar di kelas, sehingga siswa dan siswi menjadi siswa dan siswi yang pasif dalam proses belajar.
Seorang guru perlu mengatasi masalah tersebut, tugas guru bukanlah memberi informasi pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi yang mengiring siswa untuk bertanya, mengamati, menemukan fakta dan konsep sendiri dengan cara mengembangkan strategi pembelajaran yang mengarahkan siswa pada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa untuk belajar aktif.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, keefektifitas advoksi dalam pengajaran yang sesuai dengan keberagaman karakteristik yang dimiliki peserta didik, sehingga diharapkan efektifnya model advokasi dapat menjawab permasalahan yang terjadi di kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan.
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik“, yang diberi awalan ” pe“ dan akhiran “an“. Yang mengandung arti “perbuatan“. Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ paedagogic“, yang terdiri dari kata “paes” yang artinya anak, dan “again” yang artinya membimbing, jadi paedagogic artinya bimbingan yang diberikan kepada anak. Yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa inggris yaitu “Education“ yang artinya pengembangan dan bimbingan.
H.M Arifin berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek–aspek rohaniyah dan jasmaniyah, juga harus berlangsung secara bertahap.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, maka pendidikan adalah usaha manusia untuk memberikan bimbingan baik yang terstruktur maupun yang tidak terstuktur.
Sedangkan pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik untuk mengenal, menghayati, memahami, mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama islam yang bersumber dari kitab suci Al–Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.(***)
