Site icon NARASI JURNAL

Penerapan Model Pembelajaran Role Playing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran PKn

Suasana siswa saat sedang upacara di SDN 12 Sembilan Koto./Ist.

Rostiawati, SPd

Guru Kelas SDN 12 Sembilan Koto

 

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945 (Sudjna, 2003: 4). Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan keteampilan kewaganegaraan yang memadai dan memunginkan untuk berpartisispai secara cerdas dan bertangung jawab dalam  berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Sudjatmiko, 2008: 12 ).

Berdasarkan pendapat di atas jelas bagi kita bahwa PKn bertujuan mengembangkan potensi ndividu warga negara, dengan demikian maka seorang guru PKn haruslah menjadi guru yang berkualitas dan profesional, sebab jika guru tidak berkualitas tentu tujuan PKn itu sendiri tidak tercapai.

Sesuai dengan Depdiknas (Sudrjt, 2005: 33) yang menyatakan bahwa tujuan PKn untuk setiap jenjang pendidikan yaitu mengembangkan kecerdasan warga negara yang diwujudkan melalui pemahaman, ketermpilan sosial dan intelektual, serta berprestasi dalam memecahkan  masalah di lingkungannya. Untuk mencapai tujuan PKn tersebut, maka guru berupaya melalui kualitas pembelajaran yang dikelola, upaya ini bisa dicapai jika siswa mau belajar. Dalam belajar inilah guru berusaha mengarahkan dan membentuk sikap serta perilku siswa sebagaimana yang dikehendaki dalam pembelajaran PKn.

Menurut Mulyani Sumantri (2012: 6.3 ), karakteistik yang menonjol pada anak usia Sekolah Dasar adalah senang bermain, selalu bergerak, bermain, atau bekerja dlam kelompok dan senantiasa ingin melaksanakan atau merasakan sedniri. Menurut Piaget mereka dapat menggunakan berbagai simbol, melakukan berbagai bentuk operasional, yaitu kemampuan beraktifitas mental dan mulai berpikir tentang aktivitasnya.

Pada tahap opearsional konkrit ini mereka lebih bersifat kritis, dapat mempertimbangkan suatu situasi daripada hanya memfokuskan pada suatu aspek,seperti yang dilakukannya pada praoperasional. Anak usia SD kelas tinggi dapat berpikir secara logis. Hal ini berlaku sampai pada tahap operasi normal, menjelang masa remaja.

Karakteristik anak Sekolah Dasar yang dikemukakan diatas sangat berkaitan dengan perencanaan pembelajaran bagi mereka. Guru SD seyogianya merancang model pembelajaran yang memungkinan adanya unsur permainan didalamnya. Karakteristik anak usia SD yang senang bergerak, guru hendaknya merancang model pmbelajaran yang memunginkan anak berpindah atau bergerak.

Karakteritik anak usia SD yang senang belajar dalam kelompok, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Dan karakteristik anak usia SD yang senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasi konkret (Muyani Sumantri, 2012: 6.3).

Hasil belajar dapat dijadikan sebagai ukuran atau patokan tingkat keberhasilan siswa dalam penguasaan dan pemahaman suatu materi pelajaran. Tingkat pemahaman dan penguasaan siswa disebut dengan ketuntasan belajar. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil belajar dilihat dari tes  yang diadakan di akhir siklus.

Sugihartono (2007: 83) menjelaskan bahwa role playing adalah metode pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anak didik dengan cara anak didik memerankan suatu tokoh baik tokoh hidup atau tokoh mati. Melalui role playing siswa mencoba mengeksplorasi hubungan, perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya. Role playing meru­pakan metode pembelajaran yang menyenangkan karena role playing melibatkan unsur bermain dan memberi keleluasaan siswa untuk bergerak aktif.

Model pembelajaran role playing dapat membantu siswa menjadi lebih sensitif terhadap suatu peran yang mereka mainkan. Belajar mengambil peran melalui bantuan orang lain un­tuk menghargai pemikiran dan perasaan mereka, yang mana dapat membantu kualitas hubun­gan antar pribadi, saling menghormati, dan bekerja sama. Sehingga mendukung perkembangan psikologis dan sosial siswa. Role playing memberi kebebasan siswa untuk berpikir, berpenda­pat dan berkreasi secara mandiri. Juga membantu siswa belajar berinteraksi, bekerjasama dalam kelompok, menghargai dan menghormati orang lain sesuai dengan nilai-nilai dalam pembelaja­ran PKn.

Langkah-langkah model pembelajaran Role Playing sebagai berikut, Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan, Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM, Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang, Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai, Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan, Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan, Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya, Guru memberikan kesimpulan secara umum. (***)

Exit mobile version