Kesiapan Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka menuju New Normal di SDN 10 Pulau Punjung
Oleh : ZAIYATI,S.Pd
NIP. 19660410 199005 2003
Penyebaran virus corona meluas secara kilat bahkan di seluruh penjuru di dunia. Dengan adanya wabah pandemic covid-19 di tahun 2020 sampai saat ini memberikan dampak sangat besar, khususnya pada bidang pendidikan. Oleh karena itu, tentu saja seluruh masyarakat di Indonesia merasakannya. Akan tetapi, kegiatan pembelajaran harus tetap dilakukan guna menciptakan generasi emas penerus bangsa. Sehingga dalam memasuki era new normal ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru terkait pendidikan yakni mengizinkan guna menerapkan proses kegiatan pembelajaran secara tatap muka di situasi new normal. Penelitian ini bertujuan guna melihat kesiapan pelaksanaan pembelajaran tatap muka pada era new normal di SDN 10 Pulau Punjung. Pendekatan yang dipakai pada penelitian ini yakni metode kualitatif dengan jenis penelitian field research (penelitian lapangan). Instrument dalam penelitian ini yaitu observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini yaitu SDN 10 Pulau Punjung sangat baik dalam mempersiapkan pembelajaran menuju era new normal. Hal ini bisa dilihat dari 3 hal, yakni strategi apa yang akan disiapkan baik dari lembaga pendidikannya maupun dari para pendidiknya, metode yang digunakan dalam pembelajaran dan penerapan prokes dari pemerintah adanya persiapan masyarakat dari dinas kesehatan untuk vaksinasi.
Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, seperti halnya yang tertera di dalam UUD Negara Republik Indonesia alinea ke-4 pada Tahun 1945 yakni “membela seluruh bangsa dan tanah air Indonesia, serta meningkatkan ketentraman umum, meningkatkan kecerdasan warga, mengikutsertakan ketertiban dunia dengan berlandaskan kemerdekaan, perdamaian yang kekal, dan kesamarataan sosial.” Sementara, pasal 31 ayat 1 UUD RI pada Tahun 1945 mengemukakan bahwa “setiap orang mempunyai kekuasaan terkait pendidikannya”.
Saat ini, sektor pendidikan telah bertransformasi yang semula dilaksanakan secara langsung atau tatap muka didalam ruangan harus terlaksana secara online dikarenakan salah satu wabah yang tengah melanda negara Indonesia yakni virus corona/covid19. Virus corona ialah wabah penyakit yang penularannya lantaran adanya virus baru yang dikenal dengan Sars-coV-2, pertama kalinya ditemukan tanggal 31 Desember 2019 di Wuhan, China. Virus corona juga dikenal dengan “Covid19” ini dapat membuat sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang serius, dan kematian adalah semua kemungkinan. Bahkan sekarang ini, data kasus Covid-19 di Indonesia selalu meningkat, sehingga pemerintah mengambil keputusan pembatasan semua kegiatan di luar rumah serta mengajak seluruh masyarakat agar selalu berada didalam rumah hingga virus tersebut berlalu. Tidak hanya itu, tapi pemerintah pun juga membuat kebijakan baru terkait “adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi”. Misalnya dalam hal menjaga kesehatan, sebelum pandemic dan selama pandemic diwajibkan untuk menjaga kesehatan. Hal ini dilakukan guna melakukan pencegahan terhindar dari virus corona.
Terdapat beberapa hal yang bisa dilaksanakan untuk mengatasi pencegahan penularan “virus corona”, salah satunya yakni “penerapan 3M” yang sudah diperintahkan oleh pemerintah yakni (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan memakai sabun dengan disertai air yang mengalir). Harapannya dengan terlaksananya protokol 3M ini mampu mengantisipasi peningkatan menyebarnya virus pada masyarakat sekitar. Kemampuan dunia dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi saat ini dibutuhkan oleh “pandemi Covid-19″. Berbagai elemen telah mengadopsi aktivitas online guna memutus mata rantai Covid-19, tidak terkecuali komponen pendidikan.
Pembelajaran merupakan upaya bersama termasuk dan memanfaatkan keahlian profesional guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Belajar diartikan sebagai hubungan antara siswa guru, dan bahan pelajaran, didalam lingkungan belajar, seperti yang tertera dalam UU No. 20 Tahun 2003 terkait Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 Ayat 20. Dengan kata lain belajar ialah upaya untuk menetapkan kondisi untuk kegiatan belajar berlangsung.
Pembelajaran dilakukan dari rumah atau online, sesuai aturan pemerintah dalam surat edaran No. 4 Tahun 2020 terkait Penerapan “Kebijakan Pendidikan Di Masa-masa Gawat akibat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19)”. Aturan “social distancing” serta “physical distancing” dirasa bisa meretas penularan virus corona. Selain peraturan ini, pemerintah mendorong semua aspek pendidikan untuk dapat menawarkan pembelajaran online meskipun ada secara tatap muka telah di laksanakan di Dharmasraya secara Luring.
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) digunakan untuk melaksanakan Pembelajaran Dari Rumah (BDR), dan membagi dua strategi yakni pembelajaran jarak jauh secara online dan offline. Pembelajaran jarak jauh online, semi-online, dan offline adalah tiga kategori pembelajaran jarak jauh. Siswa dapat menggunakan dua puluh tiga halaman sebagai sumber belajar, menurut media pembelajaran jarak jauh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menawarkan berbagai layanan pembelajaran jarak jauh, diantaranya, program pembelajaran dari rumah dengan melihat siaran di TVRI, radio, modul dan LKS belajar mandiri, buku ajar cetak, serta alat peraga dan media pembelajaran dari benda dan lingkungan sekitar.
Sekarang ini, kegiatan belajar dapat dilaksanakan dari rumah (BDR). Permasalahan yang terjadi pada masa pandemi banyak siswa yang masih kesulitan untuk belajar secara mandiri (daring). Dalam praktiknya, kegiatan belajar mengajar secara daring yang dilakukan pada SDN 10 Pulau Punjung murid merasa tertekan saat belajar jarak jauh, karena merasa terpaksa, apalagi ditambah kurang memadainya sarana dan di rumah. Selain itu, pembelajaran daring menguraikan permasalahan yang dialami oleh orangtua, kendala tersebut muncul karena orangtua kurang memahami materi, sulitnya menumbuhkan semangat dan motivasi belajar anak, tidak hanya itu pembelajaran daring menimbulkan kebosanan anak ketika belajar dari rumah, dan terdapat kendala signal ketika pembelajaran berlangsung secara daring adanya kendala, akan tetapi juga pembelajaran jarak jauh. Dimana, dengan diberlakukannya system pembelajaran jarak jauh pun juga terdapat beberapa kendala yang tidak dapat dipungkiri, baik dari pendidik, peserta didik maupun orang tua. Salah satu kendala yang ditemukan yakni para orang tua telah mengakui bahwa dirinya sangat merasa kesulitan dalam mengontrol putra putrinya sewaktu belajar di rumah.
Sehingga, jika melihat situasi seperti saat ini tidak memungkinkan untuk kembali normal secara cepat dalam melakukan berbagai kegiatan, khususnya kegiatan pendidikan yang melibatkan siswa dan pendidik. sebab itu, pemerintah telah menetapkan strategi penerapan “new normal” dan himbauan kepada individu yang membutuhkan kegiatan yang sesuai dengan standar kesehatan. Dan akan diadakannya vaksin bagi guru, masyarakat dan anak sekolah.
New normal sendiri adalah suatu kehidupan yang baru bagi masyarakat, yang mana seluruh masyarakat bisa melaksanakan seluruh kegiatan seperti biasa akan tetapi harus memenuhi protokol kesehatan yang sudah dibuat pemerintah agar dapat mengatasi adanya penyebaran covid-19. Kebijakan pemerintah dikeluarkan untuk memberikan dampak yang signifikan di berbagai bidang, khususnya di bidang pendidikan, di mana mereka dapat mempengaruhi manajemen sekolah dan siswa menuju normal baru.
Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian dilaksanakan guna mendeskripsikan persoalan-persoalan yang terlihat saat mempersiapkan pembelajaran di masa new normal, serta memberi jalan keluar yang baik atas persoalan yang tengah terjadi saat belajar online, sehingga pendidikan di khususnya di Dharmasraya apalagi di SDN 10 Pulau Punjung bias terlaksana demi kemajuan generasi yakan dating. bisa tetap berlanjut dan mengalami perkembangan yang pesat meski saat situasi pandemi Covid-19.
Lokasi penelitian ini bertempat di SDN 10 Pulau Punjung. Adapun alasan pemilihan lokasi tersebut adalah karena lokasi tersebut merupakan salah salah satu lembaga yang mana peneliti sendiri adalah guru yang mengajar di SDN 10 Pulau Punjung dan sudah sering melakukan kegiatan belajar dengan tatap muka, sehingga peneliti ingin mengetahui seberapa kesiapan yang dilakukan SDN 10 Pulau Punjung selama pembelajaran tatap muka. Subjek yang dipilih dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru.
Dalam penelitian ini menggunakan instrumen diantaranya observasi dan wawancara. Untuk memperoleh data terkait bagaimana kesiapan SDN 10 Pulau Punjung saat menghadapi peserta didik secara tatap muka di era new normal. Kesiapan ini meliputi persiapan kebijakan yang digagas, metode pembelajaran yang dipilih serta bagaimana alur peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka di era new normal kedepannya oleh kepala sekolah, saya dan masyarakat serta guru di SDN 10 Pulau Punjung.
Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, tulisan serta tingkah laku yang dilakukan oleh pengampu kebijakan, guru dan peserta didik terkait dengan kesiapan SDN 10 Pulau Punjung dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran tatap muka bagi peserta didik di era new normal. Data yang telah terkumpul akan dikaji melalui teknik analisis agar data penelitian yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, oleh karena itu disini menggunakan teknik keabsahan data yakni menggunakan triangulasi sumber. Penggunaan triangulasi sumber dimaksudkan untuk membandingkan dan melakukan pengecekan kembali data yang sudah didapat menggunakan melalui waktu dan alat yang berbeda. Perbandingan yang dilaksanakan yaitu membandingkan apa yang dilakukan oleh responden dengan konsistensi jawaban yang diberikan saat wawancara serta ditunjang oleh teori yang selaras dengan pembahasan dalam penelitian.
Penyebaran virus corona sudah meluas cukup kilat ke seluruh penjuru di dunia. Dengan adanya wabah pandemic covid-19 di tahun 2020 sampai saat ini memberikan dampak sangat besar, khususnya pada bidang pendidikan. Virus covid-19 ini membawa dampak negatif bagi dunia pendidikan, salah satunya yaitu menurunnya kualitas pendidikan itu sendiri. Selain itu, adanya ini juga memberikan pengaruh serta membuat psikis anak menjadi menurun. Hal ini dapat dilhat dari kondisi yang terjadi di SDN 10 Pulau Punjung, yang mana banyak siswa yang malas dan tidak mau belajar, serta sibuk bermain gadget. Dibuktikan dengan pernyataan ibu Sri Darti selaku kepala sekolah, yang menyatakan bahwa kebanyakan siswa malas dan mudah bosan dalam mengikuti pembelajaran secara daring. Hal ini dikarenakan anak merasa kesulitan dalam menangkap materi yang telah diajarkan pendidik jika hanya sebatas belajar online dengan fasilitas serba terbatas dengan adanya kebijakan pembelajaran secara daring membuat anak-anak menjadi kencanduan bermain HP, bosan dan malas untuk belajar. Selain itu, bapak Ikhwan juga menyatakan bahwa sulitnya pemantauan siswa dari jarak jauh dan media yang digunakan juga terbatas tersebut juga termasuk salah satu sebab menurunnya kualitas pendidikan.
Selaras dengan pernyataan di atas, Syamsudin juga menyatakan bahwa dengan diberlakukannya system pembelajaran daring ini memberikan dampak yang lumayan besar. Misalnya seperti, menurunnya kualitas pendidikan, dimana motivasi belajar peserta didik di SDN 10 Pulau Punjung tersebut menurun. Hal ini dibuktikan dengan ketidakdisiplinan siswa, fasititas yang kurang menunjang dan sinyal yang susah. Menurutnya, adanya kebijakan system dari pemerintah terkait pembelajaran daring ini tentunya berdampak kepada semua masyarakat. Sehingga membutuhkan persiapan yang matang dalam melaksanakannya. Dengan melihat kondisi permasalahan diatas, tentu saja seluruh masyarakat merasakannya. Akan tetapi, kegiatan pembelajaran harus tetap dilakukan guna menciptakan generasi emas penerus bangsa.
Sehingga dalam memasuki era new normal ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru terkait pendidikan. Dimana, menteri pendidikan dan kebudayaan yakni Nadiem Makarim memberikan izin untuk melakukan proses belajar secara tatap muka di new normal sekarang ini. New normal sendiri adalah suatu kehidupan yang baru bagi masyarakat, yang mana seluruh masyarakat bisa melaksanakan seluruh kegiatan seperti biasa akan tetapi harus memenuhi protokol kesehatan yang sudah diatur pemerintah guna mengatasi adanya penyebaran covid-19.
Dalam melaksanakan kegiatan belajar pada saat new normal ini, maka pemerintah sudah menyusun protokol penerapan proses pembelajaran pada saat new normal. Oleh karena itu, pihak lembaga harus mempersiapkan beberapa hal dalam melaksanakan pembelajaran di new normal ini. Berikut ini adalah protokol yang sudah disusun pemerintah guna melaksanakan pendidikan di era new normal ini, Pembaharuan berbagai data kesiapan sekolah di daerah harus melaksanakan peraturan kesehatan pada saat new normal. Agar bisa melaksanakannya, maka pihak pemerintah tersebut harus melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah. Kedua, Pemerintah wajib melaksanakan pengadaan rapid test bagi guru serta petugas-petugas di sekolah. Hal ini dilaksanakan guna memastikan tidak adanya penularan mata rantai virus covid-19. Ketiga, Pemerintah wajib memastikan terkait kesiapan semua struktur dan fasilitas sekolah. Hal ini dikarenakan agar penyesuaian pola pembelajaran yang ada tersebut sesuai dengan protokol kesehatan covid-19 pada saat new normal.
Diterapkannya pembelajaran new normal di Indonesia ini tentunya banyak yang menuai pro dan kontra dimana para masyarakat secara terus-menerus mendesak pemerintah agar segera dilaksanakannya pembelajaran new normal, namun untuk menuju pembelajaran new normal diperlukan perencanaan yang sangat matang. Jika pelaksanaan berhasil maka akan sangat berpengaruh pada tingkat kecerdasan peserta didik, akan tetapi jika gagal akan lebih berdampak pada penyebaran virus covid-19 yang nantinya semakin parah. Dengan demikian dari pemerintah sendiri menghimbau kepada para masyarakat meskipun akan diterapkan pembalajaran new normal tidak lupa tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat.
Seperti yang terjadi di SDN 10 Pulau Punjung bahwasannya dalam mempersiapkan pembelajaran menuju new normal ada beberapa hal, diantaranya seperti strategi apa yang akan disiapkan baik dari lembaga pendidikannya maupun dari para pendidiknya. Selain strategi, yang paling utama dipersiapkan adalah tetap mematuhi aturan kesehatan. Dikarenakan pembelajaran secara tatap muka ini dilaksanakan di Era new normal maka protokol disini lebih diutamakan dan diperketat, seperti yang disampaikan oleh Ibu Sri Darti selaku kepala SDN 10 Pulau Punjung melalui wawancara. Pertama, pada aspek pembelajaran di SDN 10 Pulau Punjung mempersiapkan kurikulum darurat selama pandemi covid-19, dengan menyajikan kompetensi dasar dari materi esensial. Maksudnya adalah menentukan materi yang dasar dan dianggap penting untuk dipahami atau dikuasai oleh peserta didik, kemudian menyusun struktur dan jadwal sesuai kurikulum darurat, serta menentukan standar kompetensi lulusan yang realistis sesuai dengan kondisi pandemi.
Kedua, Selain menentukan kurikulum, jam masuk dan pulang disekolah juga dirubah. Yang mana, biasanya siswa memasuki sekolah pada jam 07.00 diundur menjadi jam 08.00, bertujuan agar menghindari kerumunan dijalan yang ditakutkan bersamaan dengan berangkatnya para pekerja perusahaan ataupun instansi lainnya. Durasi pembelajaran tatap muka juga dirubah yang awalnya biasanya tiap pelajaran 35 menit menjadi 20 menit. Maksimal belajar disekolah terhitung hanya 2-3 jam saja. Ketiga, meskipun pembelajaran new normal ini dilaksanakan secara tatap muka tidak lupa tetap social distanding seperti mengatur jarak tempat duduk peserta didik minimal 1 meter. Agar peserta didik tidak teledor dan paham akan situasi darurat maka bisa diberi pembatas atau tanda. Peserta didik meskipun dikelas rendah maupun kelas tinggi harus paham bahwa mereka harus menjaga jarak dengan teman sekelasnya. Jika dikelas rendah terdapat siswa yang berjumlah maksimal 20 anak maka hanya satu gelombang saja, akan tetapi dikelas tinggi yang jumlah siswanya 20 keatas maka dibuat masuk bergiliran menjadi dua gelombang.
Keempat, selalu memakai dua masker dan faceshield, selama pembelajaran berlangsung guru maupun peserta didik tidak diperkenankan memakai masker tapi di tarik kebawah sampai ke dagu, terlebih lagi tidak boleh membuka masker sama sekali. Kelima, pembelajaran new normal ini hanya dilaksanakan di dalam ruangan saja, materi pelajaran yang biasanya membutuhkan sarana perpustakaan dan laboratorium ditiadakan untuk sementara. Guru hanya boleh mengajar di satu kelas saja tidak diperkenakan pindah ruang kelas. Keenam, saat pembelajaran new normal jam istirahat pun juga ditiadakan. Peserta didik diarahkan guru agar membawa makanan dari rumah masing-masing, agar peserta didik ketika makan ataupun minum dalam wadah yang sudah pasti steril dari rumah.
Ketujuh, Setiap pagi dan sepulang siswa dari sekolah tidak pula menyemprotkan disinfektan ke setiap penjuru ruang, misalnya ruang kepala sekolah, ruang guru, kamar mandi, ruang kelas, dan ruang lainnya agar dipastikan setiap harinya selalu steril. Kedelapan, dalam pembelajaran new normal antara pendidik dengan siswa, siswa satu dengan siswa lainnya tidak boleh saling bersentuhan. Kesembilan, lembaga memberikan tempat untuk mencuci tangan beserta sabunnya dengan air yang mengalir di setiap penjuru ruang dan dalam jumlah yang cukup. Kesepuluh, seluruh orang di lingkungan sekolah tanpa terkecuali harus dalam keadaan sehat, baik dari kepala sekolah, pendidik, pegawai dan siswa. Selalu memakai masker selama disekolah. Sebelum memasuki gerbang sekolah satpam disekolah harus mengecek suhu tiap orang. Jika suhu melewati 37,3 derajat maka tidak diperkenakan masuk lingkungan sekolah. Kesebelas, rapat guru ataupun rapat wali murid diadakan secara daring untuk menghindari kerumunan.
Untuk mempersiapkan pembelajaran new normal maka peran guru disini sangatlah penting, karena meskipun situasi pandemi seperti sekarang ini kegiatan pembelajaran harus tetap dilakukan. Meskipun dengan menerapkan kebijakan baru yang tentunya tidak mudah saat diterapkannya, terutama untuk menuju pembelajaran new normal yang akan diberlakukan. Oleh karena itu, seorang guru wajib mengikuti alur perubahan yang akan menjadi kebijakan pemerintah nanti. Selain guru diperlukan kerjasama antara, orang tua dan pemerintah, agar pembelajaran new normal bisa berjalan dengan lancar.
Pembelajaran tatap muka di new normal ini sifatnya diperbolehkan bukan wajib. Keputusan bisa diambil jika ada tiga pihak yang menyetujui diantaranya yaitu pemerintah daerah, kepala sekolah begitupun orang tua. Dari tiga pihak tersebut saling keterkaitan. Jika dari pihak orang tua tidak menyetujui maka peserta didik diperbolehkan tidak masuk sekolah, karena ini sifatnya bukan wajib. Adanya pembelajaran tatap muka di new normal ini dikarenakan adanya beberapa kendala jika diberlakukan pembelajaran daring.
Virus “Corona” biasa disebut dengan sebutan “Covid-19” memberikan pengaruh yang cukup signifikan, seperti halnya dalam bidang pendidikan. Metode belajar yang dilakukan secara online atau dari rumah mempunyai banyak kelebihan serta kekurangan masing-masing. Dilaksanakan pembelajaran dengan system daring ini memberikan dampak yang lumayan besar. Misalnya seperti, penurunan kualitas pendidikan, dimana motivasi belajar peserta didik menurun, semangat belajar menurun, dan terjadi kebosanan dalam pembelajaran dari rumah. Adanya pembelajaran di era new normal menjadi udara segar bagi pendidik dan peserta didik dapat belajar secara tatap muka.
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada new normal, maka pemerintah menyusun penerapan kegiatan pembelajaran di era new normal dengan syarat wajib mengikuti protokol kesehatan. Oleh karena itu, pihak SDN 10 Pulau Punjung mempersiapkan beberapa hal dalam melaksanakan pembelajaran di era new normal ini, diantaranya yakni pembelajaran di SDN 10 Pulau Punjung mempersiapkan kurikulum darurat selama pandemi covid-19, perubahan jam masuk dan pulang sekolah, menerapkan protocol 3M, jam istirahat ditiadakan, Setiap pagi dan sepulang siswa dari sekolah tidak pula menyemprotkan disinfektan ke setiap penjuru ruang, Seluruh orang di lingkungan sekolah tanpa terkecuali harus dalam keadaan sehat, dan Rapat guru ataupun rapat wali murid diadakan secara daring untuk menghindari kerumunan. (****)







