Ditinggal Mati Suami, Ibu di Bungo ini Ikhlas Jadi Pemulung Demi Anak

Berita, BUNGO, DAERAH14 Dilihat

NARASIJURNAL.COM, Bungo – Sri Wayati (61) sesuai KTP yang ia miliki merupakan warga kelurahan Manggis, kecamatan Bathin III kabupaten Bungo -Jambi, seorang ibu ditinggal mati oleh suaminya. Ia berjuang untuk menghidupi tiga anaknya dengan rais rezeki menggunakan gerobak sebagai pemulung mengelilingi pinggiran kota Muara Bungo.

Seperti tidak ada kata lelah, kedua tangannya yang sudah tidak muda itu, terus mengencangkan ototnya untuk menarik gerobak setiap hari, penuh harapan agar gerobaknya terisi penuh.

Potret disaat Sri Wayati saat bekerja mengumpulkan barang bekas, sambil membawa anaknya yang masi balita/Foto Syahruddin www.narasijurnal.com

“Suami sayo sudah meninggal, sudah 2 tahun ini sayo sendiri bekerja sebagai pemulung demi menghidupi anak anak kami, anak yang kecil ini sayo bawa setiap hari, karna abangnya masih sekolah. Sayo sediakan tempat tidur untuk anak diatas gerobak sebagai tempat istirahatnya, sambil sayo keliling mencari barang bekas. Saat ini Sayo ngontrak dekat Telkom,” cerita Sri Wayati kepada media narasijurnal.com saat dijumpai dipinggiran jalan kota Muarabungo, Kamis, (21/10/2021).

Anak Sri Wayati yang masih balita ini setia temani Ibunya kemana saja, mencari barang rongsokan. Foto Syahruddin www.narasijurnal.com /NJ

Penulis tak ingin menggali informasi lebih jauh mengenai suaminya yang sudah meninggal, menimbang tak ingin membuat perempuan berbaju lusuh itu bertambah sedih menjalani kehidupannya sendiri menghidupi anak anaknya yang masih kecil.

Penulis berusaha melontarkan pertanyaan yang membuat ibu tambah ceria dan semangat. Disela itu sedikit mengajak anaknya bercanda. Ia pun kembali bercerita, beginilah setiap harinya, mencari barang bekas seperti kardus, plastik bekas yang bisa di rupiahkan.

Dikatakannya lagi, ya jika isi gerobaknya penuh bisa mencukupi untuk makan hari ini dan esok harinya. Tapi kalau tidak penuh hanya cukup makan hari ini bersama ketiga anaknya.

“Yang penting bisa menyambung hidup bang, tidak maling, kerja ini syukurlah bisa untuk makan sehari hari. Tapi kalau ada rezeki yang kasian lihat saya dijalan, kadang ada yang ngasih duit. Saya tabung untuk sekolah anak Sayo,” tuturnya sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata ingin menangis. (din/NJ)