Bangkai Kapal Legendaris Van Der Wijck Diduga Ditemukan di Perairan Lamogan

Berita, NASIONAL12 Dilihat

NARASIJURNAL.COM, Lamongan – Kapal legendaris Van Der Wijck yang karam pada 1936 silam. Diguga bangkainya ditemukan di perairan Brondong Lamongan, (23/10/2021).

Seperi halnya dilangsir dari mediahttp://CNN Indonesia Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur mulai mengidentifikasi dan mengumpulkan sisa-sisa bangkai Kapal Van Der Wijck. Sejauh ini, petugas masih melakukan survei terhadap titik yang diduga sebagai lokasi tenggelamnya kapal bersejarah itu.

“Identifikasi terus dilakukan guna pembuktian konkret, dan untuk tercapainya tujuan tersebut perlu terus dilakukan eksplorasi. Sebab, ada banyak properti,” kata Arkeolog BPCB Jatim, Dwi Nugroho.

Tim arkeolog sudah mulai melakukan observasi lapangan di titik tenggelamnya kapal sejak Juni 2021 lalu. Lokasi ditemukan berdasarkan dari sejumlah foto yang video yang diperoleh.

Namun demikian, survei tersebut tak berjalan baik karena kondisi perairan Lamongan yang keruh. Kegiatan jadi baru bisa dilanjutkan pada Oktober ini.

“Jadi kami terus cocokkan bagian-bagian dengan gambar dari Kapal Van Der Wijck,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa informasi juga diperoleh dari pernyataan sejumlah masyarakat dan nelayan, serta keberadaan monumen tugu peringatan.
Tim arkeolog, kata dia, masih melakukan identifikasi untuk memastikan apakah benar merupakan bangkai dari Van Der Wijck.

Kapal tersebut disebutkan memiliki sejumlah barang berharga yang bisa untuk dijadikan sebagai museum. Banyak cerita yang dieksplorasi tentang apa yang terjadi pada 1936 lalu.

“Kami berharap, jika ke depan bisa terus dieksplorasi, diangkat dan atas izin Bupati Lamongan, bisa dijadikan museum,” ucap dia.

“Itu bagian dari sejarah yang daerah lain tidak punya,” tambahnya.

Sementara itu, Letkol Laut (T) Bagus Arianto dari Koarmada II Jatim mengatakan bahwa pihaknya bersedia untuk terlibat dalam kegiatan pencarian kapal tersebut di perairan Brondong Lamongan.

“Identifikasi terus dilakukan guna pembuktian konkret, dan untuk tercapainya tujuan tersebut perlu terus dilakukan eksplorasi. Sebab, ada banyak properti,” kata Arkeolog BPCB Jatim, Dwi Nugroho.

Namun demikian, survei tersebut tak berjalan baik karena kondisi perairan Lamongan yang keruh. Kegiatan jadi baru bisa dilanjutkan pada Oktober ini.

“Jadi kami terus cocokkan bagian-bagian dengan gambar dari Kapal Van Der Wijck,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa informasi juga diperoleh dari pernyataan sejumlah masyarakat dan nelayan, serta keberadaan monumen tugu peringatan.

Kapal tersebut disebutkan memiliki sejumlah barang berharga yang bisa untuk dijadikan sebagai museum. Banyak cerita yang dieksplorasi tentang apa yang terjadi pada 1936 lalu.

“Kami berharap, jika ke depan bisa terus dieksplorasi, diangkat dan atas izin Bupati Lamongan, bisa dijadikan museum,” ucap dia.

“Itu bagian dari sejarah yang daerah lain tidak punya,” tambahnya.

Sebagai informasi, Kapal Van Der Wijck merupakan angkutan laut mewah di era 1921 yang tenggelam pada 1936 di Laut Jawa.

Kapal tersebut diberikan nama demikian karena sesuai dengan nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda Carel Herman Aart van der Wijck. Kisah itu juga melatarbelakangi penulisan novel ‘Tenggelamnya Kapal van der Wijck’ oleh Hamka dan diangkat menjadi sebuah film pada 2013. (red/NJ)

Sumber : CNN Indonesia

Editor : Maya