NARASIJURNAL.COM, Bungo – Penggiat Usaha Mikro, kecil dan Menengah (UMKM) terus berusaha bangkit dimasa pandemi. Salah satunya usaha pengelolah Tahu secara manual, Sugimun (60), warga RT. 01, kampung Giri Mulyo dusun Bukit Sari, kecamatan Jujuhan Ilir, kabupaten Bungo.
“Situasi pandemi covid-19 ini, kita tetap berusaha memproduksi Tahu, meski bahan pokok naik, seperti harga kedelai naik, sebelum nya hanya Rp.350 ribu per sak berat 50 kg sekarang naik mencapai Rp.530 ribu per sak berat 50 kg. Tentu kondisi itu memberatkan,” ucap Sugimun.
Ternyata, bukan hanya harga kedelai yang dikeluhkan, harga minyak sayur juga merangkak naik.
“Kami berharap kepada pemerintah agar bisa menurunkan lagi harga kacang kedelai dan minyak goreng agar, usaha kami ini bisa tetap bertahan. Saat ini keuntungan sangat tipis, mana lagi membiayai 5 karyawan. Sekarang kita asalkan bisa balik modal aja, dari pada kita gulung tikar kan lebih baik kita tetap bertahan yang penting balik modal. Kita berharap kedepan ada bantuan subsidi, guna meningkatkan usaha kami ini,” pungkasnya.
Terpisah, Kasi PMD kantor Camat Jujuhan Ilir Dimarah mengatakan, pihaknya mengakui kalau usaha Sugimun mengalami penurunan sejak Pandemi ini.
Katanya lagi, perlu dipertahankan meski kondisi saat ini bahan kedelai dan minyak goreng naik, usaha produksi Tahu pak Sugimun harus tetap bertahan. Karena pemasarannya sudah sampai ke Kabupaten Tetangga (Tebo dan Dharmasraya).
“Meski saat ini hanya bisa produksi sebanyak 100 kilo gram perhari, padahal jika bahan normal bisa memproduksi sebanyak 150 kilo gram per harinya. Peminatnya juga cukup lumayan tinggi, ” paparnya. (Azh/NJ)







