Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Penggunaan Media Pembelajaran

Lintas Nagari25 Dilihat

Pera Zeldawati, SPd

Guru Kelas SDN 09 Sembilan Koto

Istilah matematika sangat sulit didefinikan secara akurat.  Pada umumnya orang hanya akrab dengan satu cabang matematika elementer yang disebut aritmetika atau ilmu hitung. Yang secara informal dapat diartikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan yang dapat langsung diperolah dari bilangan-bilngan bulat 0,1,2,3,…, dst melalui beberapa operasi dasar : tambah, kurang, kali dan bagi. Namun demikian, matematika secara umum didefinisikan sebagai bidang ilmu yang mempelajari pola dari struktur, perubahan dan ruang.

Maka secara informal, matematika dapat pula disebut sebagai ilmu tentang bilangan dan angka. Dalam pandangan formalis, matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi.  Pandangan lain mengatakan bahwa matematika merupakan ilmu dasar yang mendasari ilmu pengetahuan lain. Sehingga pada zaman-zaman sebelum masehi dimana pada zaman Mesir kuno, aritmetika digunakan untuk membuat piramida dan untuk menentukaan waktu turun hujan, atau matematika merupakan raja dari ilmu-ilmu lain karena matematika berkembang tidak tergantung pada ilmu-ilmu lain tersebut.

Menurut ensiklopedi bebas www.wikipedia.com, kata “Matematika” berasal dari kata mathema dalam bahasa Yunani diartikan sebagai ‘sains, ilmu pengetahuan atau belajar” juga mathematikos yang diartikan sebagai “suka belajar”.  Pembagian umum bidang Matematika adalah tentang struktur, ruang dan perubahan, pelajaran mengenai struktur dimulai dengan bilangan, pertama dan yang sangat umum adalah biangan natural,  bilangan bulat dan operasi aritmetikanya, yang semuanya dijabarkan dalam aljabar dasar.

Pengajaran matematika tidak sekedar kemampuan cepat dalam berhitung namun penanaman konsep sehingga mengerti maksud matematika sehingga mampu bernalar, dapat memecahkan masalah dengan berbagai cara. Seperti jika siswa belajar perkalian, bukan hanya sekedar mencetak kemampuan berhitung perkalian secara cepat, namun pemahaman tentang sesuatu yang disebut konsep perkalian itu sendiri yaitu konsep penjumlahan bilangan yang sama secara berulang.  Pemberian rumus-rumus menghitung cepat tanpa menanamkan pemahaman akan menjadi bumerang bagi bagi siswa dikemudian hari.

Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak, sehingga hal inilah yang menyebabkan banyak orang mengalami kesulitan dalam matematika.  Kreativitas yang perlu dibuat dalam memahamkan bentuk matematika yang abstrak, salah satunya dengan “memaksa” siswa mengajarkan materi matematika tersebut pada teman-teman sejawatnya, menjadi fasilitator dan motivator bagi yang lain. selain itu penggunaaan soal-soal sederhana yang sering dijumpai dalam peristiwa kehidupan sehari-hari dan pembelajaran matematika dengan cara yang kreatif sehingga pembelajarannya menjadi pembelajaran yang bermakna.

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat perubahan, ketrampilan dan sikapnya.

Belajar menurut Rahadi merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungan untuk perubahan tingkah laku, dengan demikian hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan tingkah laku yang relative permanent pada diri orang yang belajar. Tentunya perubahan yang diharapkan adalah perubahan kearah yang positif.

Pengertian belajar yang sama juga diungkapkan oleh Hilgard dalam Wina Sanjaya bahwa belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, baik latihan didalam laboratorium maupun dalam lingkungan yang alamiah. Disini Hilgard menekankan pada proses perubahan tingkah laku yang dihasilkan dalam proses belajar. Proses belajar itu sendiri pada hakekatnya merupaan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat, artina proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar ang tidak dapat disaksikan, dan hanya dapat dilihat dari gejala perubahan perilaku laku yang tampak.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang dilakukan seseorang karena berinteraksi dengan lingkungannya. Atau belajar adalah perubahan pada seseorang yang disebabkan karena adanya pengalaman.

Menurut Wina Sanjaya mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi juga dimaknai sebagai prosses pengaturan lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain yang demikian itu sering diistilahkan dengan pembelajaran. Sejalan dengan itu juga Gagne dalam Wina Sanjaya (2006: 100) menyatakan mengajar (Teaching) merupakan bagian dari pembelajaran (instructions), dimana para guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.

Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa guru tidak hanya berperan dalam penyampaian informasi atau pelajaran saja tetapi bertindak sebagai pengarah (direction) dan pemberi fasilitas (fasilitator learning) untuk terjadinya proses pembelajaran.

Teori belajar yang dapat diterapkan untuk mengembangkan pembelajaran matematika SD yaitu Teori Thorndike, Teori Ausubel, Teori Jean Piaget, Teori Vygostsky, Teori Jerome Bruner, George Polya, Teori Van Hiele (Hierarkis Belajar Geometri). Realistic mathematies Education dan Peta Konsep.

Pembelajaran matematika dapat dikatakan berhasil yaitu dengan melihat ketuntasan.Hasil belajar yaitu kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengetahuan. Hasil belajar adalah output yang dicapai berkat adanya proses belajar (Sudjana, 1991). Hasil belajar dapat dilihat dari ketuntasan.Ketuntasan belajar yang dimaksud adalah siswa sudah mengerti dan menyerap dengan baik materi yang sudah diajarkan.

Menurut Nasution (1994)  bahwa ketidak berhasilan belajar disebabkan oleh berbagai hal antara lain rendahnya intelektual siswa, kurang matangnya anak untuk belajar, kurang motivasi belajar, kemampuan mengingat yang rendah, dan proses belajar mengajar yang tidak sesuai. Proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil jika tujuan instruksional khususnya dapat tercapai ( Djamarah 2006 ).

Menurut Sudjana (1991) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal yaitu kesehatan inteligensi, bakat, minat, dan motivasi cara belajar. Faktor eksternal yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Untuk menciptakan proses pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, diperlukan sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini media pembelajaran adalah salah satu sarana yang dapat memotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa itu sendiri (Miarso,1980).

Menurut Hamalik (1994), dengan ungkapan lain mengemukakan bahwa pemakaian media dalam proses pembelajaran dapat keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap pebelajar. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.

Cukup banyak jenis-jenis media yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran.Tiap-tiap jenis media tersebut memiliki beberapa kelebihan dan keterbatasan tertentu yang berbeda antara media yang satu dengan jenis media yang lainnya. Media pembelajaran sangat penting dalam upaya memperjelas pengertian peserta didik, sehingga dengan menggunakan media pembelajaran peserta didik dapat lebih memperhatikan benda-benda yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Media pembelajaran merupakan suatu media untuk menyampaikan informasi, saran, pesan dan kesan serta ide dan sebagainya. Media pembelajaran sangat bermanfaat digunakan saat proses pembelajaran.

Media adalah alat bantu pembelajaran yang secara sengaja dan terencana disiapkan atau disediakan guru untuk mempresentasi dan menjelaskan bahan pelajaran, serta digunakan siswa untuk dapat terlibat langsung dengan pembelajaran matematika. Media pembelajaran adalah salah satu  yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran untuk memperjelas pengertian pada peserta didik dan membantu guru untuk menyampaikan tujuan instruksional karena media pembelajaran dapat memberikan pengalaman dan pengertian yang lebih luas, lebih jelas sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa.

Menurut Sudjana (1991) dengan menggunakan media secara tepat dan bervariasi dapat Menimbulkan gairah belajar pada siswa, Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik, lingkungan dan guru, memungkinkan siswa belajar sendiri sesuai dengan  kemampuan masing-masing.(***)