Baru pertama kalinya wartawan di Ranah Cati Nan Tigo menghadiri rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) ke-78 di Ancol, Jakarta. Jika selama ini, hanya wartawan yang tergabung di dalam PWI saja yang dapat pergi ke acara HPN. Namun, di tahun 2024 hampir seluruh wartawan Dharmasraya menikmati seluruh rangkaian kegiatan HPN.
Bahkan, Kadis Kominfo Dharmasraya, Rovanly Abdams langsung memimpin keberangkatan Wartawan dan memberikan pelayan super ekstra terbaik bagi kuli tinta. Bagaimana kisah menarik dari perjalanan wartawan Dharmasraya selama enam hari di kota Jakarta ?
MAYA DWI EFFENDI – WARTAWAN UTAMA
Suatu sejarah yang akan terukir sangat indah sepanjang kepemimpinan orang nomor satu di Kabupaten Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan yang mampu memberangkatkan 34 wartawan yang bertugas di daerah kekuasaannya. Sudah kedua kalinya wartawan di Kabupaten Dharmasraya merasakan kebersamaan dalam menjalin silaturahmi ke luar kota.
Tahun 2022, wartawan Dharmasraya diberangkatkan ke Medan untuk melakukan sharing informasi ke Dinas Kominfo Kota Medan. Di tahun 2024 bulan Februari, kembali seluruh wartawan Dharmasraya diberikan reward untuk menghadiri rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional yang ke-78 di Ecovention Ancol, Jakarta, Selasa (20/2/2024).
Bupati memberangkatkan rombongan dengan jalur darat, menggunakan dua bus Nyaman Holiday untuk memberangkatan 34 wartawan baik dari media cetak maupun online. Dan 26 perwakilan OPD yang ada di Kabupaten Dharmasraya, yang turut serta menyaksikan dan merasakan kehangatan dan kemeriahan HPN di Jakarta.
Sekitar pukul 09.00 WIB pada tanggal 17 Februari 2024, dua bus telah berdiri kokoh di depan Kantor Bupati Dharmasraya untuk membawa seluruh wartawan dan OPD ke Jakarta. Disekitar itu, terdengar gelak tawa kecil dari para kuli tinta yang akan berangkat ke Jakarta.
Tak peduli, hawa dingin yang menerpa kulit mereka kala itu. Ada juga terdengar obrolan ringan dari awak media dengan keluarga mereka yang turut serta mengantarkan kepergian ke Tanah Jawa.
Dan sekitar pukul 10.00 WIB, dua Bus Nyaman Holiday melayu cepat menyisir Jalan Lintas Sumatera menuju ke Jakarta. Perjalanan yang membutuhkan waktu lebih kurang 27 jam lebih tak dirasakan oleh para awak media. Karena selama diperjalanan para awak media Dharmasraya selalu melakukan kegiatan yang dapat mengusir penat dan lelahnya selama diperjalanan.
Iringan musik merdu mengiri canda tawa, dan obrolan ringan para kuli tinta selama di bus. Bahkan Bus Nyaman Holiday dijadikan tempat berkarauke bersama, berjoget bersama, bercanda gurau dan berselfi ria. Kegiatan-kegiatan tersebut membuat perjalanan berjam-jam tidak dirasakan sama sekali oleh para jurnalis di Kabupaten Dharmasraya.
Semua menjadi satu dalam suatu ikatan kekeluargaan yang sangat erat. Tanpa ada batas, tanpa ada jarak dan tanpa ada siapa dia, media apa dia dan bagimana dia menjadi seorang wartawan. Semuanya menjadi sama dan satu, yakni persaudaraan sesama wartawan se-Kabupaten Dharmasraya.
Kisah perjalanan ini, akan menjadi sebuah catatan sejarah yang indah bagi masa depan kelak. Kenangan selama perjalanan di enam hari bersama akan menjadi sebuah kisah indah penuh kenangan, yang tidak akan terlupakan hingga kapanpun.
Bahkan akan menjadi sebuah cerita indah yang akan menjadi sebuah bahan obrolan ringan, jika kelak bertemu dimana pun berada. Ini akan menjadi sebuah catatan yang penuh sejarah bagi para awak media Dharmasraya.
Anggota Sekber Berangkat Semua…..

Menurut Koordinator Sekretariat Bersama (Sekber), Muhammad Samin bahwa keberangkatan anggota Sekber ke Jakarta untuk menghadiri rangkaian HPN merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi dirinya.
Karena hanya dibawah kepemimpinan Sutan Riskalah wartawan se-Dharmasraya, terutama wartawan Sekber dapat diberangkatkan secara bersama-sama ke Jakarta.
“Saya sebagai Koordinator Sekber mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bupati Dharmasraya, karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk dapat menikmati indahnya hari yang bersejarah bagi dunia pekerjaan yang kami geluti saat ini. Berkat Bupatilah, kami bisa pergi bersama-sama ke Jakarta. Bertemu dengan rekan sejawat sesama wartawan dari berbagai daerah lain. Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kami semua, para wartawan Dharmasraya,” ujar Muhammad Samin, yang merupakan salah satu Wartawan Utama pertama di Kabupaten Dharmasraya.
Bahkan, Samin juga mengatakan ribuan terima kasih kepada Kepala Dinas Kominfo Dharmasraya, Rovanly Abdams yang mau bergabung bersama dengan wartawan dalam suka maupun duka. Hanya sosok Rovanly Abdams lah, salah satu Kepala Dinas yang mau bergabung dalam keadaan suka maupun duka bersama dengan wartawan.
“Saya ancungkan jempol kepada Kadis Kominfo yang telah bersedia untuk bergabung bersama dengan kawan-kawan di bus. Mau bergabung berdesak-desakkan bersama kawan-kawan. Mau mendengarkan celoteh, kelakar, bercadaan dan ributan dari kawan-kawan selama di perjalanan. Belum ada kepala dinas di Dharmasraya ataupun di daerah lain yang mau bersama-sama dengan wartawan dalam susah maupun senang bersama wartawan,” tegas Samin.
Katanya lagi, dengan diajaknya perwakilan PPID pembantu yang ada di Organisasi Perangkat Daerah (OPD), untuk menambah wawasan terkait informasi informasi daerah serta dapat melihat langsung HPN sekaligus HUT PWI. Sehingga hubungan baik dan keterbukaan informasi antara OPD dengan wartawan dapat terus terjalin dengan baik dan lancar.
Tidak ada lagi, OPD yang takut dengan wartawan untuk berbagi informasi. Serta memberikan pengetahuan dan pemahaman, mengenal lebih dekat bagi PPID dan wartawan sebagai mitra pemerintah daerah dalam melakukan tata kelola pelayanan publik.
“Saya berharap hubungan ini akan terus terjalin dengan baik sampai kedepannya. Dan saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati yang telah membawa seluruh anggota Sekber ke Jakarta. Kepada Pak Kadis Kominfo, sekali lagi saya ucapkan ribuan terima kasih. Karena telah memberikan pelayanan yang terbaik bagi kawan kawan Sekber dan wartawan lainnya. Bapak memang kereeeennn banget,” tegas Samin yang saat ini akan menjadi salah satu anggota Dewan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Kadis Kominfo, Rovanly Abdams Jadi Idola Kuli Tinta
Kebaikan dan ketulusan dari Kadis Kominfo memang bukan kali ini saja dirasakan oleh para kuli tinta Kabupaten Dharmasraya. Saat wartawan Dharmasraya pergi untuk melakukan sharing informasi ke Kota Medan selama lima hari pada tanggal 28 Maret 2022 lalu, kebaikan dan ketulusan Rovanly Abdams juga sudah mulai dirasakan oleh seluruh awak media yang ikut dalam rombongan ke Medan. Beliau terlihat santai, tidak ada membuat jarak dan selalu berada di tengah-tengah wartawan di manapun berada.
Sejak hari keberangkatan, Kadis Kominfo tidak pernah pisah bus. Selalu berada di bus rombongan wartawan. Kadis Kominfo duduk di bangku paling depan bersama wartawan sejak hari pertama hingga kembali lagi ke Kabupaten Dharmasraya
Kedekatannya dengan wartawan, mau bergaul dan bersenda gurau bersama didalam bus, mau sarapan dan makan bersama dengan wartawan tanpa ada perbedaan meja makan dan murah senyum menjadi ciri khas Kadis Kominfo Kabupaten Dharmasraya.
“Saya salut dengan Kadis Kominfo Kabupaten Dharmasraya beliau mampu menyesuaikan kondisi dan situasi dimana pun ia berada. Buktinya, selama enam hari ini Kadis Kominfo selalu berada di tengah-tengah wartawan. Tidak pernah pisah dari bus, makan tanpa dilayani mau mengantre sendiri untuk mendapatkan makanan dan selalu tersenyum melihat ulah dan tingkah wartawan. Tanpa batas antara pejabat dan wartawan, beliau mampu berada di kondisi apapun bersama wartawan. Inilah yang harus ditiru oleh seluruh pejabat yang ada di Kabupaten Dharmasraya selalu dekat dengan wartawan sebagai Mitra kerja,” Ungkap wartawan senior Ridwan Syarif dan Syaiful Anif.

Lontaran kata sanjungan pun dilontarkan oleh beberapa wartawan yang ikut dalam perjalanan ke Kota Jakarta, Wartawan Pilar Bangsa, Rijal Af, Wartawan Lintas Media, Eldawati, dan Wartawan Singgalang, Roni Aprianto salut dan bangga akan sifat dan sikap murah senyum dan rendah hati Kadis Kominfo Kabupaten Dharmasraya.
“Salut dan bangga kami kepada Kadis Kominfo Kabupaten Dharmasraya yang selalu berada ditengah tengah kami, dimanapun berada. Baik di bus, tempat wisata, hotel dan tempat makan. Tidak pernah memisahkan diri dan tidak pernah mau dilayani. Beliau selalu berbaur dengan kami, tanpa ada batas. Intinya, Pak Kadis memang kereenn,” Ungkap Elda yang diaminkan oleh Roni Aprianto.
Selain itu, Kadis Kominfo Dharmasraya selalu menampung aspirasi, keluhan dan masukan dari kawan kawan wartawan. Bahkan beliau selalu memberikan solusi yang terbaik jika ada permasalahan ataupun riak riak kecil selama dalam perjalanan. Sehingga solusi yang diberikan oleh Kadis Kominfo membuat seluruh wartawan yang ikut, selalu berdecak kagum.
“Terima kasih pak Kadis Kominfo, atas kebersamaan yang telah dibangun dengan seluruh Wartawan Kabupaten Dharmasraya. Kami bangga dan salut kepada Pak Kadis yang mau berbaur dengan kami selama dalam perjalanan,” Pungkas Hasanudin, Erman Chaniago dan Bagus.
Bahkan salah seorang wartawan senior yang telah banyak makan asam garamnya di dunia kuli tinta, Wartawan Padang Ekspres, Zulfia Anita menegaskan secara tegas kalo Kadis Kominfo memang patut diberikan aplus yang luar biasa. Karena hubungan yang dibangun oleh Kadis Kominfo bukan hanya sekedar hubungan antara mitra dengan pejabat.
Melainkan hubungan yang lebih bisa dikatakan sebagai hubungan kekeluargaan yang sangat erat, sebagai seorang bapak ataupun abang yang mengayomi dan membimbing seluruh wartawan.
“Beliau bukan hanya sekedar membangun hubungan antara mitra kerja saja, akan tetapi lebih ke hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Kadis Kominfo juga terlihat low profile di setiap kondisi. Ini membuktikan bahwa Kadis Kominfo memang patut disanjung dan dibanggakan. Kami wartawan yang tergabung dengan Wartawan bersatu mengucapkan Terima kasih atas kebersamaan yang telah dibentuk oleh Kadis Kominfo terhadap kami semua,” beber Zulfia Anita.
Sejarah Singkat Lahirnya Hari Pers Nasional

Berdasarkan https://indonesiabaik.id/infografis/sejarah-lahirnya-pers-di-indonesia Hari Pers Nasional diperingati setiap tanggal 9 Februari. Diambil dari tanggal lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1946. Hari Pers Nasional ditetapkan oleh Presiden Suharto pada tahun 1985, melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 tentang Hari Pers Nasional.
Lahirnya Pers Indonesia berdasarkan dari keinginan menerbitkan surat kabar di Hindia Belanda saat itu sebenarnya sudah sangat lama, tetapi selalu dihambat oleh pemerintah VOC. Baru setelah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff menjabat, terbitlah surat kabar “Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen” yang artinya “Berita dan Penalaran Politik Batavia” pada 7 Agustus 1744.
Ketika Inggris menguasai wilayah Hindia Timur pada 1811, terbit surat kabar berbahasa Inggris “Java Government Gazzete” pada 1812. “Bataviasche Courant”. Kemudian diganti menjadi “Javasche Courant” yang terbit tiga kali seminggu pada 1829, yang memuat pengumuman-pengumuman resmi, peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah.
Pada 1851, “De Locomotief” terbit di Semarang. Surat kabar ini memiliki semangat kritis terhadap pemerintahan kolonial dan pengaruh yang cukup besar. Abad ke-19, untuk menandingi surat kabar-surat kabar berbahasa Belanda, muncul surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa meskipun para redakturnya masih orang-orang Belanda, seperti “Bintang Timoer” (Surabaya, 1850), “Bromartani” (Surakarta, 1855), “Bianglala” (Batavia, 1867), dan “Berita Betawie” (Batavia, 1874).
Dan Pada 1907, terbit “Medan Prijaji” di Bandung yang dianggap sebagai pelopor pers nasional karena diterbitkan oleh pengusaha pribumi untuk pertama kali, yaitu Tirto Adhi Soerjo. Ketika Jepang berhasil menaklukkan Belanda dan akhirnya menduduki Indonesia pada 1942, kebijakan pers turut berubah. Semua penerbit yang berasal dari Belanda dan China dilarang beroperasi. Sebagai gantinya penguasa militer Jepang lalu menerbitkan sejumlah surat kabar sendiri.
Saat itu terdapat lima surat kabar yaitu Jawa Shinbun yang terbit di Jawa, Boernoe Shinbun di Kalimantan, Celebes Shinbun di Sulawesi, Sumatra Shinbun di Sumatra dan Ceram Shinbun di Seram. Kehidupan pada 1950-1960-an ditandai oleh munculnya kekuatan-kekuatan politik dari golongan nasionalis, agama, komunis dan tentara.
Pada masa ini sejumlah tonggak sejarah pers Indonesia juga lahir, seperti LKBN Antara pada 13 Desember 1937, RRI pada 11 september 1945, dan organisasi PWI pada 1946 yang kemudian menjadi cikal bakal Hari Pers Nasional. Lahir pula TVRI, stasiun televisi pemerintah pada 1962. September hingga akhir 1945, pers nasional semakin kuat ditandai dengan penerbitan “Soeara Merdeka” di Bandung dan “Berita Indonesia” di Jakarta, serta beberapa surat kabar lain, seperti “Merdeka”, “Independent”, “Indonesian News Bulletin”, “Warta Indonesia”, dan “The Voice of Free Indonesia”.
Sedangkan berdasarkan tulisan https://www.detik.com/jateng/berita/d-6553587/sejarah-hari-pers-nasional-9-februari-sejak-merdeka-dan-hpn-2023 bahwa Persatuan Wartawan Indonesia berdiri pada 9 Februari 1946 di Solo. Lahirnya PWI menjadi bukti bahwa wartawan Indonesia turut berjuang dalam menentang kembalinya penjajah ke tanah air. Maka itu 9 Februari juga dkenal sebagai Hari Pers Nasional (HPN).
Dalam situs pwi.or.id dijelaskan, pada 9 Februari 1946, sewaktu pasukan Inggris dan Belanda sedang meningkatkan operasi pendaratan dan pendudukan di berbagai daerah republik, wartawan-wartawan Republiken mengadakan kongres pertamanya di Surakarta untuk membentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Kongres yang melahirkan PWI itu dihadiri wartawan dari daerah republik dan wartawan-wartawan yang berhasil lolos dari daerah-daerah pendudukan dan dari incaran serdadu Sekutu atau Belanda. Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai berlangsungnya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus-2 November 1949, para tokoh PWI telah melangsungkan tiga kali kongres.
Pada kongres PWI pertama di Solo, para wartawan pergerakan sudah memikirkan pentingnya upaya di bidang pengusahaan pers demi kelangsungan hidup pers sebagai alat perjuangan dan pembangunan bangsa. Mengingat kepentingan inilah peserta kongres sepakat membentuk panitia berjumlah 10 orang. Dibentuknya panitia tersebut mendorong lahirnya Serikat Perusahaan Suratkabar (SPS) di Jogja pada 8 Juni 1946, yang namanya kemudian menjadi Serikat Penerbit Surat Kabar.
Anggota pengurus SPS pada saat pembentukannya termasuk wartawan-wartawan pergerakan seperti Sjamsuddin Sutan Makmur, Djamal Ali, Ronggo Danukusumo dan Sumanang. Dalam artikel ‘Sekilas Sejarah Pers Indonesia’ karya Tribuana Said di pwi.or.id dijelaskan bahwa perkembangan politik liberalisme saat itu tercermin pula dalam kehidupan pers nasional.
Pada tahun pertama, 1950, surat kabar-surat kabar menentukan pilihan mereka dalam menyikapi pertentangan politik seputar hasil-hasil KMB, dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan pertentangan partai-partai, baik di parlemen mau pun dalam kabinet.
Suasana dan keadaan politik yang liberalistik ini terpantul dalam pola pemberitaan, garis editorial atau tajuk rencana, bentuk karikatur, dan isi pojok penerbitan pers, terutama penerbitan pers masing-masing partai. Menurut data tahun 1954, di seluruh Indonesia saat itu terdapat 105 surat kabar harian dengan total oplah 697.000 lembar.
Demikianlah sekilas lahirnya Hari Pers Nasional yang patut kita ketahui dari berbagai sumber terpercaya. Pers sangatlah penting, karena tanpa adanya pers maka informasi-informasi penting yang ada di pemerintahan tidak akan diketahui oleh seluruh masyarakat.
Sebagus dan sebaik apapun program pemerintah, tanpa diketahui oleh masyarakat maka semuanya tidak akan berarti sama sekali. Oleh karena itu, Pers atau wartawan sangatlah dibutuhkan oleh pemerintah, sebagai satu kesatuan dalam membangun pemerintahan khususnya Kabupaten Dharmasraya.(dari berbagai sumber)







